Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 10% dalam Sepekan, Sentimen Pasar Berbalik Negatif

SUARA PEKERJA, MEDAN – Harga emas dunia mengalami tekanan tajam sepanjang pekan lalu, dipicu kombinasi pernyataan pesimistis bank sentral dan eskalasi konflik Iran. Logam mulia tersebut bahkan sempat bertahan di level psikologis USD 5.000 per ons, sebelum akhirnya tergelincir dan menutup pekan kemarin di bawah USD 4.500.

Melansir data Kitco News, Senin (23/3/2026), pada awal pekan lalu, harga emas spot dibuka di kisaran USD 5.023,53 per ons dan relatif stabil hingga pertengahan minggu. Namun, tekanan mulai muncul saat harga menembus support penting di sekitar USD 4.970, yang memicu penurunan cepat hingga menyentuh USD 4.860 hanya dalam waktu dua jam.

Situasi memburuk setelah rilis data inflasi produsen (PPI) yang lebih tinggi dari ekspektasi serta pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, usai keputusan suku bunga. Harga emas kemudian merosot mendekati USD 4.800, sebelum kembali jatuh tajam pada sesi Asia ke level USD 4.538.

Meski sempat rebound ke kisaran USD 4.730, tren pelemahan berlanjut hingga akhir pekan. Emas mencatat level terendah mingguan di USD 4.477,54 dan ditutup lemah di bawah USD 4.500 per ons.

Survei mingguan Kitco menunjukkan perubahan tajam sentimen pasar. Mayoritas analis Wall Street kini pesimistis terhadap prospek jangka pendek emas, sementara investor ritel mulai beralih ke sikap bearish.

Masih Ada Keyakinan

Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan, tetap optimistis terhadap pemulihan harga.

“Pasar turun minggu lalu sesuai perkiraan karena rapat FOMC, keputusan suku bunga, dan pernyataan Ketua Powell. Sekarang itu sudah berlalu, dan karena tidak ada perubahan fundamental dalam sebulan terakhir terkait emas dan perak, saatnya mulai naik kembali dari koreksi yang berlebihan ini,” kata dia.

Senada, analis senior Barchart.com, Darin Newsom, menilai penurunan tajam tidak mengubah tren jangka panjang.

“Ya, saya tahu pasar emas runtuh minggu lalu. Tetapi mengatakan tren telah berbalik turun berarti menggunakan perspektif jangka pendek untuk masalah jangka panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, inflasi akan meningkat, ketidakpastian geopolitik yang sama akan membawa pembeli kembali ke emas sebagai aset safe haven.

Tekanan Masih Ada

Di sisi lain, Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, memperkirakan tekanan harga masih berlanjut dalam jangka pendek.

“Sentimen telah berubah, dan pasar fokus pada faktor negatif, termasuk bank sentral yang lebih enggan memangkas suku bunga di tengah kenaikan harga minyak,” katanya. Meski demikian, ia menilai kondisi ini hanya sementara.(cil) *

spnews: