SUARA PEKERJA, MEDAN – Dalam peta musik Indonesia, tidak banyak sosok yang mampu menyatukan religiositas dengan musikalitas kelas tinggi secara harmonis. Namun, di Medan, Sumatera Utara, sejarah mencatat satu nama besar: Prof (HC) Datuk AHMAD BAQI lahir 17 Juli 1922 adalah putra dari Abdul Majid, Mufti Kesultanan Deli. Ahmad Baqi bukan sekadar pemusik, melainkan seorang visioner yang mengubah wajah musik Islam di tanah air menjadi lebih modern, elegan, dan bermakna.
Revolusi dari Pesisir Sumatera
Lahir di tengah kultur Melayu yang kental, Ahmad Baqi tidak puas hanya menjadi penikmat irama padang pasir yang statis. Pada tahun 1964, ia mengambil langkah berani dengan mendirikan El-Suraya. Di tangan dinginnya, grup ini bertransformasi dari sekadar orkes lokal menjadi sebuah institusi musik yang disegani.
Ia melakukan eksperimen yang berani di zamannya: memadukan denting Gambus yang tradisional dengan aransemen orkestrasi modern. Hasilnya? Sebuah genre musik religi yang “naik kelas” – tidak lagi terdengar kuno, melainkan megah dan sinematik.
“Petuah Orang Tua”: Sebuah Masterpiece Etika
Salah satu pencapaian artistik Ahmad Baqi yang paling membekas di hati masyarakat adalah lagu “Petuah Orang Tua”. Jika lagu “Selimut Putih” bicara tentang akhir hayat, maka lagu ini adalah panduan praktis tentang cara menjalani hidup. Lewat lagu ini, Dia menunjukkan kelasnya sebagai sastrawan. Ahmad Baqi tidak hanya memberi nasihat searah, tetapi menggunakan metafora alam yang sangat cerdas untuk mendidik karakter:
”Bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi tunduk ke bawah,
Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung.”
Lirik ini adalah teguran halus namun tajam bagi kita semua. Ahmad Baqi mengingatkan bahwa kehormatan seseorang tidak datang dari kesombongan, melainkan dari kemanfaatan yang disertai kerendahan hati. Dia menggunakan analogi “ayam di kandang” untuk menyentil fenomena orang yang melakukan hal kecil namun ingin pujian besar, sebuah pesan yang terasa sangat relevan di era media sosial saat ini.
Lewat lagu ini, Ahmad Baqi menunjukkan kejeniusannya dalam memotret nilai-nilai luhur ketimuran. Ia tidak hanya memberikan nasihat yang bersifat teologis, tetapi juga menekankan pentingnya adab, hormat kepada orang tua, dan cara membawa diri di tengah masyarakat. Liriknya yang berbunyi seperti guidebook kehidupan ini disampaikan dengan melodi yang tenang namun tegas, menjadikannya lagu wajib di berbagai acara adat dan keagamaan hingga saat ini.
Lagu ini membuktikan bahwa Ahmad Baqi adalah seorang pendidik melalui nada. Ia percaya bahwa nasihat yang dibungkus dengan melodi indah akan lebih mudah meresap ke dalam sanubari daripada sekadar kata-kata lisan.
Sang Penulis Lirik yang Eksistensial
Kekuatan utama Ahmad Baqi terletak pada kedalaman literasinya. Ia adalah seorang storyteller ulung. Selain “Petuah Orang Tua”, lagu legendarisnya “Selimut Putih” juga mengajak pendengarnya untuk merenungkan hakikat kematian tanpa rasa takut yang gelap, melainkan dengan kesiapan spiritual. Kemampuannya mengemas pesan berat ke dalam bahasa yang puitis membuat karya-karyanya melampaui batas zaman (timeless).
Melampaui Sekadar Hiburan
Bagi Ahmad Baqi, musik adalah media dakwah yang paling cair. Dia membuktikan bahwa untuk menyampaikan kebaikan, seseorang tidak harus selalu berceramah di mimbar. Melalui harmoni nada, pesan tentang perdamaian dunia, persaudaraan, dan cinta kasih bisa masuk ke telinga siapa saja, mulai dari kalangan rakyat jelata hingga pejabat negara.
Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu
Ahmad Baqi telah berpulang, namun “suaranya” tidak pernah benar-benar hilang. Karya-karyanya masih sering diaransemen ulang oleh musisi generasi saat ini, membuktikan bahwa kualitas seni yang dibuat dengan hati akan selalu relevan.
Ahmad Baqi adalah bukti nyata bahwa dari Medan, seorang maestro mampu melahirkan karya yang mendunia, mendidik tanpa menggurui, dan menghibur tanpa melupakan Tuhan.
Menarik, bukan? Kekuatan lagu “Petuah Orang Tua” memang sering kali membuat pendengarnya bernostalgia sekaligus merasa “tertegur”.(cil) *
Sumber : Google