Sri Astuti, “Kartini” Buruh dari Medan: Tegas, Lantang, dan Tak Kenal Kompromi

Sosial167 Dilihat

SUARA PEKERJA, Medan – Nama Sri Astuti bukanlah sosok asing di kalangan buruh di Kota Medan maupun Sumatera Utara. Ketua KSPSI Niba Sumut ini dikenal sebagai figur perempuan yang memiliki karakter kuat, tegas, dan tanpa kompromi dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia pergerakan buruh, Sri Astuti justru tampil sebagai srikandi yang berdiri di garis depan, memperjuangkan keadilan bagi kaum pekerja.

Lahir di Bahorok pada 10 Februari 1976, Sri Astuti telah menapaki perjalanan panjang dalam dunia aktivisme buruh. Kehidupan yang ia jalani sejak muda membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan berani menghadapi berbagai tantangan. Dari pengalaman itulah, ia memahami betul bagaimana kerasnya kehidupan buruh, serta ketimpangan yang kerap terjadi antara pekerja dan pengusaha.

Kini, wanita yang berdomisili di kawasan Mabar, Kota Medan, itu dikenal luas sebagai sosok yang tak hanya vokal, tetapi juga konsisten dalam mengawal berbagai persoalan ketenagakerjaan. Ia kerap turun langsung ke lapangan, mendampingi buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja sepihak, upah yang tidak dibayarkan, hingga persoalan jaminan sosial tenaga kerja.

READ  Safari Ramadhan Rico Waas dan Jean Calvijn Resmikan Masjid Al-Munawwarah dan Tekankan Perang Lawan Narkoba

Di mata para buruh, Sri Astuti bukan sekadar pemimpin organisasi. Ia adalah tempat mengadu, pelindung, sekaligus pejuang yang siap berdiri di barisan terdepan ketika hak-hak pekerja dirampas. Tak sedikit kasus ketenagakerjaan di Medan dan Sumatera Utara yang berhasil ia kawal hingga menemukan titik terang.

Ketegasannya menjadi ciri khas yang sulit dipisahkan dari dirinya. Sri Astuti dikenal tidak segan berhadapan langsung dengan perusahaan-perusahaan yang dinilai melanggar aturan. Bahkan, ia sering disebut sebagai sosok yang “tidak kenal kompromi” terhadap pengusaha-pengusaha nakal yang mencoba mengabaikan hak buruh.

READ  Jumat Berkah: KSPSI AGN Sumut & Prabu Sumut Berbagi Kepada Ponpes Anwaruzzain

Namun di balik sikap kerasnya, Sri Astuti juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib pekerja. Ia memahami bahwa perjuangan buruh bukan sekadar soal tuntutan materi, melainkan juga tentang martabat dan keadilan. Hal inilah yang membuatnya tetap konsisten berada di jalur perjuangan, meski harus menghadapi berbagai tekanan.

Saat ditemui di Kantor KSPSI AGN di Stadion Cafe, Sri Astuti menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak boleh berhenti di tengah jalan. Ia menyebut, masih banyak pekerja yang belum mendapatkan haknya secara layak, dan itu menjadi tanggung jawab bersama untuk terus diperjuangkan.

“Perjuangan ini bukan tentang saya pribadi. Ini tentang ribuan buruh yang menggantungkan harapan kepada kita. Kalau kita diam, maka ketidakadilan akan terus terjadi,” ujarnya dengan nada tegas.

Ia juga menekankan pentingnya solidaritas antarburuh sebagai kekuatan utama dalam menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan. Menurutnya, tanpa kebersamaan, perjuangan akan mudah dipatahkan oleh kepentingan yang lebih besar.

READ  Dasco Terima Presiden KSPSI Andi Gani Bahas RUU Ketenagakerjaan-PPRT

Selain aktif dalam advokasi kasus, Sri Astuti juga dikenal sebagai sosok yang mendorong edukasi bagi para buruh. Ia kerap mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap hak-hak pekerja, agar buruh tidak mudah dipermainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Julukan “Kartini” yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, Sri Astuti mampu membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan keadilan sosial, khususnya di sektor ketenagakerjaan.

Perjuangannya hingga kini masih terus berlanjut. Dengan semangat yang tak pernah padam, Sri Astuti tetap berdiri tegak sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan—seorang perempuan yang memilih jalan terjal demi membela hak-hak buruh di Sumatera Utara.(rz) *