SUARA PEKERJA, MEDAN — Pergerakan buruh hari ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan jumlah massa dan kekuatan turun ke jalan. Zaman telah berubah. Persoalan ketenagakerjaan semakin kompleks, kebijakan semakin dinamis, sementara ruang perjuangan buruh semakin luas—mulai dari ruang dialog, advokasi hukum, kebijakan publik, hingga ruang digital.
Karena itu, gerakan buruh membutuhkan strategi.
Saya melihat pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War masih memiliki relevansi untuk membaca pergerakan organisasi buruh saat ini. Bukan dalam arti menjadikan perjuangan buruh sebagai perang terhadap pemerintah atau pengusaha, tetapi sebagai pelajaran bahwa setiap perjuangan membutuhkan perhitungan, informasi, konsolidasi, ketepatan momentum dan kemampuan membaca keadaan.
Bagi saya, prinsip paling penting adalah: kemenangan tidak selalu harus dicapai melalui benturan.
Perjuangan buruh bukan tujuan untuk mencari musuh. Perjuangan buruh adalah memastikan hak pekerja dihormati, kesejahteraan meningkat, perlindungan hukum berjalan dan kebijakan publik tidak mengabaikan kepentingan pekerja.
Karena itu, semakin kuat organisasi buruh memahami persoalan, semakin matang pula cara perjuangannya.
Jangan Hanya Mengandalkan Jumlah Massa
Jumlah massa memang penting. Demonstrasi merupakan salah satu instrumen demokrasi yang dijamin dalam negara hukum. Namun jumlah massa tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kekuatan gerakan.
Gerakan buruh harus mempunyai data, Kita harus mengetahui berapa banyak pekerja yang terdampak sebuah kebijakan, bagaimana persoalannya, apa dasar hukumnya, siapa lembaga yang memiliki kewenangan, dan apa solusi yang ingin kita tawarkan.
Massa tanpa data mudah kehilangan arah. Sebaliknya, data yang kuat tanpa kekuatan organisasi juga sulit menghasilkan perubahan.
Maka kekuatan gerakan buruh harus dibangun dari tiga hal:
– massa yang solid, data yang kuat dan argumentasi yang jelas.
– Inilah yang harus terus kita bangun di Sumatera Utara.
– Kenali Persoalan Sebelum Menentukan Langkah
Sun Tzu mengajarkan pentingnya mengenali diri sendiri dan memahami pihak yang dihadapi. Dalam perjuangan buruh, prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi kemampuan memahami persoalan secara utuh.
Ketika menghadapi sebuah kebijakan, kita harus terlebih dahulu membaca regulasinya. Ketika menghadapi persoalan hubungan industrial, kita harus memahami duduk perkaranya. Ketika menyampaikan kritik kepada pemerintah, kritik tersebut harus didukung fakta dan dasar hukum.
Jangan sampai gerakan buruh terjebak pada kemarahan sesaat. Kemarahan boleh menjadi energi, tetapi strategi harus menjadi pengarahnya.
Karena itu, setiap aksi harus mempunyai tujuan yang jelas. Apa yang dituntut? Kepada siapa tuntutan disampaikan? Apa dasar hukumnya? Apa solusi yang ditawarkan? Dan bagaimana mengukur keberhasilannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab sebelum massa bergerak.
Dari Reaksi Menjadi Proaktif
Saya berpandangan bahwa gerakan buruh tidak boleh hanya bergerak ketika masalah sudah terjadi. Kita harus mampu membaca persoalan sebelum menjadi krisis.
Ketika ada pembahasan kebijakan yang berpotensi memengaruhi pekerja, organisasi buruh harus hadir sejak awal. Ketika ada perubahan regulasi, kita harus mempelajarinya. Ketika ada persoalan di perusahaan, kita harus memahami akar masalahnya sebelum mengambil langkah.
Artinya, organisasi buruh harus bergerak dari reaktif menjadi proaktif. Perjuangan tidak selalu dimulai dari jalan raya.
Perjuangan bisa dimulai dari ruang rapat, kajian, advokasi, dialog dengan pemerintah, komunikasi dengan pengusaha, pendampingan pekerja dan penyusunan rekomendasi kebijakan.
Jika semua jalur tersebut tidak menghasilkan penyelesaian, barulah kekuatan massa menjadi instrumen perjuangan yang terukur.
Persatuan Adalah Modal Utama
Tidak ada gerakan buruh yang kuat jika pekerjanya terpecah. Perbedaan serikat, federasi, sektor pekerjaan dan latar belakang organisasi tidak boleh membuat kepentingan bersama kehilangan arah. Ada saatnya kita berbeda pendapat. Itu wajar dalam organisasi demokratis.
Namun ketika menyangkut kepentingan mendasar pekerja—upah yang layak, jaminan sosial, keselamatan dan kesehatan kerja, kepastian hubungan kerja serta perlindungan hukum—kita harus mampu menemukan titik temu.
Bersatu bukan berarti harus seragam. Bersatu berarti mampu berdiri bersama ketika kepentingan yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama.
Karena itu, KSPSI AGN Sumatera Utara harus terus membangun komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai elemen pekerja.
Informasi Adalah Kekuatan Baru
Di era digital, pertarungan informasi menjadi bagian penting dari pergerakan. Sebuah persoalan buruh dapat diketahui masyarakat dalam hitungan menit. Tetapi informasi yang tidak akurat juga dapat merusak kredibilitas organisasi.
Karena itu, setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus dapat dipertanggungjawabkan. Kita tidak boleh membangun gerakan berdasarkan rumor.
Kita harus membangun gerakan berdasarkan fakta, data dan keberanian menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab. Media sosial harus digunakan bukan hanya untuk mengerahkan massa, tetapi juga untuk memberikan pendidikan kepada pekerja dan masyarakat mengenai persoalan ketenagakerjaan.
Gerakan buruh harus mampu memenangkan ruang argumentasi di ruang publik.
Jangan Semua Persoalan Diselesaikan dengan Benturan
Saya percaya perjuangan buruh dan pemerintah tidak harus selalu berada dalam posisi berhadap-hadapan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab membuat kebijakan, Pengusaha memiliki kepentingan terhadap keberlangsungan usaha, Pekerja memiliki kepentingan terhadap kesejahteraan dan perlindungan.
Ketiganya memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi bukan berarti tidak mungkin menemukan titik temu.
Karena itu, dialog harus tetap menjadi salah satu instrumen utama. Namun dialog juga harus memiliki makna. Dialog bukan berarti melemahkan perjuangan. Dialog adalah salah satu cara untuk menguji argumentasi, mencari solusi dan mencegah konflik yang lebih besar.
Ketika dialog tidak menghasilkan penyelesaian, organisasi buruh tetap memiliki hak untuk menggunakan mekanisme perjuangan lainnya sesuai ketentuan hukum.
Kritis bukan berarti bermusuhan. Tegas bukan berarti anarkis. Inilah prinsip yang menurut saya harus dijaga dalam pergerakan buruh modern.
Kemenangan Bukan Sekadar Berapa Banyak Massa yang Turun
Ukuran keberhasilan sebuah aksi bukan hanya berapa ribu orang yang hadir.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
– Apa yang berubah setelah aksi tersebut?
– Apakah ada kebijakan yang diperbaiki?
– Apakah ada hak pekerja yang dipulihkan?
– Apakah ada persoalan yang diselesaikan?
– Apakah pemerintah mendengar?
– Apakah pengusaha menjalankan kewajibannya?
– Apakah masyarakat semakin memahami persoalan buruh?
Jika jawabannya ada, maka perjuangan telah menghasilkan sesuatu. Karena pada akhirnya, perjuangan buruh bukan tentang seberapa keras kita berteriak, tetapi tentang seberapa jauh suara itu mampu menghasilkan perubahan yang nyata.
Membangun Gerakan yang Lebih Cerdas
Ke depan, saya melihat gerakan buruh Sumatera Utara harus semakin terorganisir. Kita membutuhkan kader yang memahami hukum ketenagakerjaan, ekonomi, kebijakan publik, komunikasi, teknologi dan media.
Kita membutuhkan organisasi yang mampu mengolah data menjadi argumentasi. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengumpulkan massa, tetapi juga mampu duduk di meja perundingan dengan argumentasi yang kuat.
Dan kita membutuhkan pekerja yang memahami bahwa perjuangan bukan hanya tugas para pimpinan serikat. Perjuangan adalah tanggung jawab bersama.
Saya percaya bahwa buruh tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan. Buruh harus menjadi bagian dari proses pembentukan kebijakan yang menyangkut kehidupan mereka.
Karena itu, gerakan buruh harus hadir bukan hanya ketika keputusan telah dibuat, tetapi sejak kebijakan tersebut masih dibicarakan.
Menang Tanpa Harus Bermusuhan
Pelajaran terbesar dari strategi Sun Tzu bagi gerakan buruh bukanlah bagaimana mengalahkan lawan. Pelajaran terbesarnya adalah bagaimana mencapai tujuan dengan strategi yang matang dan kerugian yang seminimal mungkin.
Dalam perjuangan buruh, kemenangan sejati bukan ketika pihak lain kalah.
Kemenangan adalah ketika pekerja memperoleh perlindungan, hak dihormati, kesejahteraan meningkat dan hubungan industrial berjalan secara adil.
Karena itu, saya ingin menegaskan bahwa KSPSI AGN Sumatera Utara akan terus mendorong perjuangan yang tegas, terukur, konstitusional dan berbasis data.
Kita boleh berbeda kepentingan, tetapi jangan kehilangan akal sehat. Kita boleh kritis, tetapi tetap menghormati hukum. Kita boleh turun ke jalan, tetapi tujuan akhirnya harus tetap meja penyelesaian.
Dan kita boleh memiliki kekuatan massa yang besar, tetapi kekuatan terbesar tetap berada pada persatuan, pengetahuan dan strategi.
Buruh tidak cukup hanya kuat. Buruh harus cerdas membaca keadaan.
Buruh tidak cukup hanya berani. Buruh harus mampu menentukan arah perjuangan.
Dan buruh tidak cukup hanya bergerak. Buruh harus tahu untuk apa mereka bergerak.
— T. M. Yusuf
Ketua KSPSI AGN Sumatera Utara
