SUARA PEKERJA, MEDAN – Ketua Gibran Lovers Sumatera Utara, Reza Nasution, mengingatkan semua pihak agar tidak membuat kegaduhan yang berpotensi mengganggu stabilitas negara terkait polemik ijazah yang belakangan kembali menjadi perbincangan publik.
Menurut Reza, jika ada pihak yang memiliki ambisi untuk menjadi pemimpin pada 2029, sebaiknya menyampaikan gagasan, kritik, dan argumentasi melalui debat terbuka serta diskusi yang sehat, bukan dengan menciptakan kegaduhan yang dapat memecah belah masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Reza Nasution dalam debat dan diskusi hangat yang diselenggarakan oleh Kopi Kampus di Stadion Cafe, Senin (19/10/2026).
“Jangan baru ribut sekarang soal ijazah. Jangan sampai persoalan ini membuat negara menjadi kacau balau. Kalau memang punya ambisi menjadi pemimpin pada 2029, silakan buktikan kemampuan melalui debat, adu gagasan, dan diskusi yang sehat,” tegas Reza.
Ia menilai, perbedaan pandangan dalam demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun, menurutnya, persoalan yang menyangkut dokumen pendidikan harus disikapi secara objektif, berdasarkan fakta, bukti, dan mekanisme hukum yang berlaku.
Reza juga menyatakan keyakinannya bahwa ijazah yang menjadi polemik tersebut ada. Ia beralasan, proses pencalonan dan verifikasi administrasi merupakan tahapan yang harus dilalui oleh setiap kandidat sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami yakin dan percaya ijazah itu ada. Kalau memang tidak ada, bagaimana bisa lolos proses verifikasi? Namun, persoalan seperti ini harus tetap dibahas berdasarkan fakta dan mekanisme yang benar,” ujarnya.
Reza berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh polemik yang berkembang. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan dialog, menjaga persatuan, serta memberikan ruang bagi proses hukum dan pembuktian yang semestinya.
Menurutnya, demokrasi tidak boleh dijadikan alasan untuk menciptakan kegaduhan tanpa dasar yang jelas. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan secara bertanggung jawab dan didukung bukti.
“Kalau ingin menjadi pemimpin, tunjukkan kualitas, gagasan, dan kemampuan. Jangan sampai ambisi politik justru membuat masyarakat terpecah belah,” pungkasnya.(*)
